• Durasi waktu baca karya: 4menit

Lebaran kali ini rasanya beda. Bukan beda yang menyenangkan, tapi beda yang agak nyesek. Biasanya, di hari-hari terakhir Ramadan, aku udah sibuk packing, nyiapin baju terbaik buat dipakai di kampung, dan siap-siap road trip panjang bareng keluarga.

Tapi tahun ini? Enggak ada perjalanan. Enggak ada momen nyari jajanan di rest area. Enggak ada drama rebutan kursi sama adek di mobil.

Alasannya? Ayah belum dapet cuti. Dan kalau ayah enggak bisa mudik, otomatis kita semua juga harus tetap di perantauan. Kampung halaman yang ada di Jawa Barat dan Jawa Tengah kali ini cuma bisa jadi tempat rindu yang enggak tersampaikan.

Malam takbiran biasanya jadi momen paling istimewa. Di kampung, suara takbir berkumandang dari masjid-masjid kecil, orang-orang rame keliling kampung bawa obor, anak-anak lari-lari sambil main petasan, dan bau ketupat udah mulai semerbak di udara.

Tapi di sini? Di kota perantauan ini? Takbiran memang kedengeran, tapi rasanya hampa. Suaranya masuk ke telinga, tapi enggak nyampe ke hati. Enggak ada suara tawa khas keluarga besar yang biasanya menggema di rumah nenek. Hanya ada aku, duduk di kamar, ngeliatin langit dari jendela, sambil nahan napas panjang.

Dan entah kenapa, aku kepikiran buat bikin poster. "Ayo Mudik!!! Pulang Kampung, Mengobati Rindu". Seakan-akan, kalau aku nulis itu cukup besar, semesta bakal baca dan tiba-tiba teleportasiin aku ke kampung halaman.

Aku gambar mobil penuh koper, keluarga yang senyum bahagia, dan plang jalan bertuliskan nama kota yang seharusnya aku datangi. Tapi pas aku selesai gambar, rasanya malah makin nyesek. Aku sadar, aku cuma bisa nulis dan menggambar, tapi enggak bisa benar-benar pulang.

Mudik

Aku kepikiran, gimana ya suasana di kampung sekarang? Apa nenek udah mulai sibuk di dapur? Apa saudara-saudaraku lagi heboh beli kembang api? Apa rumah udah penuh dengan suara tawa dan cerita nostalgia?

Video call jadi penyelamat. Aku lihat wajah nenek di layar HP, lihat saudara-saudaraku yang lagi ngobrol rame dan bertamu di rumah nenek. Tapi kamu tau kan rasanya? Kamu bisa lihat mereka, bisa dengar suara mereka, tapi kamu enggak benar-benar ada di sana.

Kamu cuma jadi penonton dari layar kecil, sementara dunia nyata mereka tetap berjalan tanpa kamu. Aku ketawa, aku tersenyum, tapi di dalam hati ada sesuatu yang kosong.

Aku sadar, rindu itu ternyata bukan cuma soal jarak. Tapi juga soal momen yang terlewatkan. Tahun ini, aku enggak bisa mudik. Enggak bisa cium tangan nenek, enggak bisa ikut rebutan kue nastar di meja tamu, enggak bisa denger langsung suara takbir dari musholla kecil di kampung. Semua itu cuma jadi potongan kenangan yang enggak bisa aku ulang tahun ini.

Tahun ini enggak mudik, tapi tahun depan HARUS MUDIK!! 🏡🚗 

Enggak ada yang bisa ngalahin nikmatnya pulang ke kampung halaman. Karena sejauh apa pun kita pergi, rumah tetap tempat terbaik buat kembali. 🤍✨

You are not authorised to post comments.

Comments powered by CComment